Minggu, 22 April 2018

COBIT Strategy Service



Analisis Tata Kelola Teknologi Informasi ( It Governance ) pada Bidang Akademik dengan Cobit Frame Work Studi Kasus pada Universitas Stikubank Semarang

Agus Prasetyo Utomo danNovita Mariana
Fakultas teknologi Informasi, Universitas Stikubank Semarang
e­mail : mustagus@yahoo.com, h4n4_473ng@yahoo.co.id

Abstrak
Tata kelola TI atau IT (Information Technology) Governance merupakan struktur hubungan dan proses untuk mengarahkan dan mengendalikan organisasi untuk mencapai tujuannya dengan menambahkan nilai ketika menyeimbangkan risiko dibandingkan dengan TI dan prosesnya. Dalam penelitian ini dihasilkan suatu rekomendasi IT Governance yang merupakan pengembangan dari IT Governance yang sudah dilaksanakan oleh Institusi saat ini, namun saat ini proses IT Governance belum dilakukan secara menyeluruh. Rekomendasi IT Governance ini dibuat guna meningkatkan kinerja TI layanan akademik yang ada di UNISBANK, dimana aktivitas layanan akademik tersebut menjadi tanggung jawab kerja suatu biro yang bernama BAAK dan pengadaan dan pengelolaan TI yang ada menjadi tanggung jawab suatu divisi yaitu P2ICT. Perancangan IT Governance dalam penelitian ini menggunakan kerangka kerja COBIT (Control Objective For Information and Related Technology) versi 4.0, Dalam penelitian ini hanya dibahas 2 domain dari 4 domain yang ada di COBIT dengan pembahasan dibatasi pada tingkat control process saja, tidak membahas aktivitas­aktivitas yang terdapat di setiap control process. Domain yang dipilih dalam penelitian ini untuk dibuatkan rekomendasi pengelolaan TI adalah domain Deliver and Support (DS), Monitor and Evaluate (ME). Dari pemetaan model maturity tersebut diperoleh bahwa tingkat maturity untuk DS mendidik dan melatih users berada pada level maturity 4 (diatur), sementara untuk DS mengelola data berada pada tingkat maturity 3 (ditetapkan), Domain untuk Monitor dan evaluasi kinerja TI berada tingkat maturity 3 (ditetapkan). Berdasarkan pemetaan maturity tersebut dirancang rekomendasi IT Governance untuk masing­masing control process agar tingkat maturity dari masing­masing control process tersebut bisa lebih baik. Berdasarkan visi, misi, tantangan masa depan, dan tingginya harapan manajemen UNISBANK terhadap proses IT COBIT, dapat disimpulkan untuk dapat mendukung pencapaian tujuan UNISBANK setidaknya tingkat maturity pengelolaan IT yang dilakukan harus berada pada tingkat 4 – diatur (managed) dimana proses di monitor dan diukur manggunakan indikator tertentu.
 Kata Kunci : IT Governance, COBIT, model maturity

PENDAHULUAN
Teknologi informasi (TI) saat ini sudah menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi hampir semua organisasi perusahaan karena dipercaya dapat membantu meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses bisnis perusahaan, tak terkecuali perguruan tinggi. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan suatu pengelolaan TI yang baik dan benar agar keberadaan TI mampu untuk menunjang kesuksesan organisasi dalam pencapaian tujuannya. Kesuksesan tata kelola perusahaan (enterprise governance) saat ini mempunyai ketergantungan terhadap sejauh mana tata kelola TI (IT Governance) dilakukan. IT Governance merupakan bagian terkait dengan corporate governance.
Beberapa hal mendasar jika dibandingkan dengan corporate governance adalah IT Governance berkaitan dengan bagaimana top manajemen memperoleh keyakinan bahwa Manager Sistem Informasi (Chief Information Officer) dan organisasi TI dapat memberikan return berupa value bagi organisasi. Aktivitas utama dalam perguruan tinggi sesuai dengan fungsi utamanya yaitu sebagai penyelenggara pendidikan adalah layanan akademik. Dalam pelaksanaan layanan akademik ini perlu adanya penggunaan TI yang dapat mendukung kecepatan, kemudahan dan kenyamanan dalam layanan akademik, sehingga kualitas layanan akademik dapat diberikan kepada ahasiswa. Hal tersebut juga berlaku pada bagian akademik di lingkungan. UNISBANK. UNISBANK sebagai salah satu lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi di Semarang, menggunakan teknologi informasi sebagai :
1.  Salah satu positioning UNISBANK, yaitu Universitas berbasis teknologi informasi, yaitu memberikan pendidikan berdasarkan kurikulum yang berbasis kompetensi teknologi informasi dan komputer.
2.    Penunjang proses bisnis, yaitu menggunakan teknologi informasi sebagai sarana dan prasarana untuk memberikan layanan kepada mahasiswa, dosen dan seluruh stafnya serta membantu terlaksananya aktivitas di seluruh unit kerja yang ada.
Dalam melakukan aktivitas utamanya dimana UNISBANK sebagai perguruan tinggi yang memberikan jasa pendidikan, didukung oleh suatu biro akademik yaitu Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (BAAK) yang mempunyai tujuan sebagai biro pemberi layanan administrasi dan informasi akademik yang cepat, akurat, tertib dan ramah.
Dalam melakukan tugasnya ini, BAAK sudah didukung oleh TI berupa suatu sistem informasi akademik, dimana untuk pengadaan TI ini dilakukan oleh suatu divisi tersendiri yaitu P2ICT UNISBANK. Namun terdapat permasalahan dalam sistem informasi akademik yang ada saat ini yaitu pengawasan maupun penilaian terhadap kinerja TI khususnya sistem informasi akademik yang digunakan dan evaluasi kinerja sistem maupun karyawan baik karyawan non TI maupun karyawan TI yang terlibat dalam sistem informasi akademik tersebut belum dilakukan secara optimal dari pihak universitas karena pengawasan dan penilaian terhadap TI hanya dilakukan jika ada keluhan dari unit kerja mengenai layanan TI tersebut. Permasalahan tersebut berkaitan dengan pelayanan yang perlu diberikan terhadap pengguna dari sistem informasi akademik, mulai dari operasi yang perlu dilakukan terhadap keamanan data akademik yang ada dan aspek kesinambungan sampai pelatihan sumber daya manusia yang mendukung proses dari sistem informasi akademik tersebut. Selain itu permasalahan tersebut berhubungan dengan proses pendukung yang semestinya terlebih dahulu harus ditetapkan untuk dapat memberikan pelayanan. Dengan adanya permasalahan tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk membuat suatu rekomendasi pengelolaan TI yang tepat sehingga dapat dijadikan panduan yang dapat digunakan pemakainya serta dapat meningkatkan penggunaan fasilitas tersebut secara optimal. Pembuatan IT Governance dalam penelitian ini menggunakan kerangka kerja COBIT (Control Objectives For Information And Related Technology), dimana konsep dasar kerangka kerja COBIT adalah bahwa penentuan kendali dalam TI didasarkan kepada informasi yang diperlukan untuk mendukung tujuan bisnis dan informasi yang dihasilkan dari gabungan penerapan proses TI dan sumber daya terkait.

RUMUSAN DAN BATASAN MASALAH
Penerapan TI untuk setiap organisasi terkait dengan strategi dan tujuan masing­ masing organisasi, oleh karenanya penerapan suatu TI harus diselaraskan dengan strategi bisnis dan tujuan organisasi. Keselarasan antara penerapan TI dengan strategi bisnis dan tujuan organisasi dapat dicapai melalui pengelolaan TI yang baik.
Berdasarkan uraian tersebut maka dirumuskan permasalahan yang nantinya akan diuraikan solusinya sebagai berikut :
1.  Bagaimana menerapkan IT Governance pada UNISBANK terutama yang berhubungan dengan TI yang digunakan dalam layanan akademik?
2.  Bagaimana merancang IT Governance yang menghubungkan domain Deliver and Support (DS) dengan Monitor and Evaluate (ME) yang ada di COBIT dimana masing­-masing domain terdiri dari beberapa proses?
 3. Bagaimana pengendalian proses TI Lembaga berdasarkan Key Goal Indicator (KGI), Key Performance Indicator (KPI) untuk setiap control process ?
4.   Bagaimana memetakan tingkat maturity prosess TI Lembaga saat ini sehinggga dapat diukur posisi proses saat ini?
5.  Apakah rekomendasi IT Governance yang dibuat untuk control process yang diprioritaskan selaras dengan strategi bisnis Lembaga?
Batasan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut :
1.   Rekomendasi pengelolaan TI dalam penelitian penelitian ini hanya dibatasi pada domain DS dan ME karena pada domain ini dari hasil pengamatan awal di UNISBANK belum jelas bahkan pengawasan dan penilaian TI untuk layanan akademik belum optimal. Pembahasan IT Governance difokuskan pada management guidelines dimana nantinya dapat membantu pihak manajemen menyeimbangkan risiko dan pengendalian yang tidak diprediksi oleh lingkungan TI. Sedangkan bagi users diharapkan nantinya membantu untuk mendapatkan jaminan atas keamanan dan pengendalian dalam pelayanan TI.
2.   Dalam kerangka COBIT yang dibahas hanya pada tahap domain dan control process dan tidak dibahas mengenai aktivitas yang berada pada masing– masing control process.
Dalam penelitian ini tidak membahas mengenai implementasi IT Governance di lembaga, tapi sebatas langkah­langkah apa yang seharusnya dilakukan oleh P2ICT UNISBANK dalam melakukan IT Governance untuk mencapai sasaran dari layanan akademik yang telah ditetapkan.

TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
 Tujuan dari penelitian penelitian ini sebagai berikut :
1. Mengembangkan IT Governance yang sudah ada di Lembaga melalui Deliver and Support (DS), Monitor and Evaluate (ME).
2. Membuat sebuah rekomendasi pengelolaan TI yang sesuai dengan strategi bisnis dan tujuan UNISBANK berdasarkan KGI dan KPI.
Nantinya diharapkan rekomendasi pengelolaan TI ini dapat dijadikan sebagai pertimbangan pihak manajemen TI bagaimana sebaiknya pengelolaan TI untuk mendukung kinerja layanan akademik yang dilakukan oleh BAAK terutama dalam pelayanan dan monitoring dari TI tersebut.

METODE PENELITIAN
Tahapan-­tahapan yang dilakukan dalam pembuatan rekomendasi pengelolaan TI ini sebagai berikut :
1. Melakukan studi lapangan mengenai proses penggunaan TI yang sedang berjalan dan mengumpulkan dokumen mengenai visi, misi, strategi, tujuan, dan struktur lembaga UNISBANK.
2.   Analisis data yang berkaitan dengan domain DS dan ME.
3.  Membuat kuesioner skala prioritas yang ditujukan bagi Kepala BAAK sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam kegiatan layanan akademik dan Kepala P2ICT sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap pengadaan dan pengelolaan TI yang ada di UNISBANK.
3.   Analisis data hasil kuesioner, hasil pengamatan langsung dan pengalaman yang dirasakan oleh penulis baik sebagai users yang menggunakan informasi yang dihasilkan oleh layanan akademik maupun keterlibatan dalam pembuatan sistem informasi akademik yang digunakan, data yang berkaitan dengan pengelolaan TI saat ini yang terdokumentasi, penghitungan skala prioritas masing­ masing control process yang terdapat pada domain DS dan ME.
4. Membuat kuesioner untuk control process dengan pertanyaan yang disusun berdasarkan management guidelines COB IT yang disesuaikan dengan keadaan pengelolaan TI saat ini. Setiap pertanyaan yang diajukan diuji validitas dan reliabilitasnya. Uji validitas dan reliabilitas dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada pertanyaan yang ambigu menurut responden.
5.    Analisis hasil kuesioner, dimana pada tahap ini dilakukan pemetaan pengelolaan TI layanan akademik UNISBANK dengan mengacu pada COBIT.

TELAAH PUSTAKA
COBIT (Control Objectives For Information And Related Technology)
Alat yang komprehensif untuk menciptakan adanya IT Governance di organisasi adalah penggunaan COBIT (Control Objectives For Information And Related Technology) yang mempertemukan kebutuhan beragam manajemen dengan menjembatani celah antara risiko bisnis, kebutuhan kontrol, dan masalah­masalah teknis TI. COBIT menyediakan referensi best business practice yang mencakup keseluruhan proses bisnis organisasi dan memaparkannya dalam struktur aktivitas­ aktivitas logis yang dapat dikelola dan dikendalikan secara efektif.
Tujuan utama COBIT adalah memberikan kebijaksanaan yang jelas dan latihan yang bagus bagi IT Governance bagi organisasi di seluruh dunia untuk membantu manajemen senior untuk memahami dan mengatur risiko–risiko yang berhubungan dengan TI. COBIT melakukannya dengan menyediakan kerangka kerja IT Governance dan petunjuk kontrol obyektif yang rinci bagi manajemen, pemilik proses bisnis, pemakai dan auditor.

Kerangka Kerja COBIT
COBIT (Control Objectives For Information And Related Technology) adalah kerangka IT Governance yang ditujukan kepada manajemen, staf pelayanan TI, control departement, fungsi audit dan lebih penting lagi bagi pemilik proses bisnis (business process owner’s), untuk memastikan confidenciality, integrity dan availability data serta informasi sensitif dan kritikal.
Konsep dasar kerangka kerja COBIT adalah bahwa penentuan kendali dalam TI berdasarkan informasi yang dibutuhkan untuk mendukung tujuan bisnis dan informasi yang dihasilkan dari gabungan penerapan proses TI dan sumber daya terkait. Dalam penerapan pengelolaan TI terdapat dua jenis model kendali, yaitu model kendali bisnis (business controls model) dan model kendali TI (IT focused control model), COBIT mencoba untuk menjembatani kesenjangan dari kedua jenis kendali tersebut.
Pada dasarnya kerangka kerja COBIT terdiri dari 3 tingkat control objectives, yaitu activities dan tasks, process, domains. Activities dan tasks merupakan kegiatan rutin yang memiliki konsep daur hidup, sedangkan task merupakan kegiatan yang dilakukan secara terpisah. Selanjutnya kumpulan activity dan task ini dikelompokan ke dalam proses TI yang memiliki permasalahan pengelolaan TI yang sama dikelompokan ke dalam domains.
Gambar 2.1 COBIT cube

1.    COBIT di rancang terdiri dari 34 high level control objectives yang menggambarkan proses TI yang terdiri dari 4 domain yaitu: Plan and Organise, Acquire and Implement, Deliver and Support dan Monitor and Evaluate. Berikut kerangka kerja COBIT yang terdiri dari 34 proses TI yang terbagi ke dalam 4 domain pengelolaan, yaitu Plan and Organise (PO), mencakup masalah mengidentifikasikan cara terbaik TI untuk memberikan kontribusi yang maksimal terhadap pencapaian tujuan bisnis organisasi. Domain ini menitikberatkan pada proses perencanaan dan penyelarasan strategi TI dengan strategi organisasi. Domain PO terdiri dari
10 control objectives, yaitu :
PO1 ­ Define a strategic IT plan. PO2 – Define the information architechture., PO3 – Determine technological direction, PO4 – Define the IT processes, organisation and relationships, PO5 ­ Manage the IT investment, PO6 – Communicate management aims and direction, PO7 – Manage IT human resource, PO8 – Manage quality, PO9 – Asses and manage IT risks, PO10 – Manage projects.
2.    Acquire and Implement (AI), domain ini menitikberatkan pada proses pemilihan, pengadaaan dan penerapan TI yang digunakan. Pelaksanaan strategi yang telah ditetapkan, harus disertai solusi­solusi TI yang sesuai dan solusi TI tersebut diadakan, diimplementasikan dan diintegrasikan ke dalam proses bisnis organisasi. Domain AI terdiri dari 7 control objectives, yaitu :
AI1 – Identify automated solutions, AI2 – Acquire and maintain application software, AI3 – Acquire and maintain technology infrastructure, AI4 – Enable operation and use, AI5 – Procure IT resources, AI6 – Manage changes, AI7 – Install and accredit solutions and changes.
3.    Deliver and Support (DS), domain ini menitikberatkan pada proses pelayanan TI dan dukungan teknisnya yang meliputi hal keamanan sistem, kesinambungan layanan, pelatihan dan pendidikan untuk pengguna, dan pengelolaan data yang sedang berjalan. Domain DS terdiri dari 13 control objectives, yaitu :
DS 1 – Define and manage service levels, DS2 – Manage third­party services. DS3 – Manage performance and capacity, DS4 – Ensure continuous service. DS5 – Ensure systems security, DS6 – Identify and allocate costs, DS7 – Educate and train users, DS8 – Manage service desk and incidents, DS9 – Manage the configuration,DS 10 – Manage problems, DS 11 – Manage data, DS 12 – Manage the physical environment, DS13 – Manage operations.
4.   Monitor and Evaluate (ME), domain ini menitikberatkan pada proses pengawasan pengelolaan TI pada organisasi seluruh kendali­kendali yang diterapkan setiap proses TI harus diawasi dan dinilai kelayakannya secara berkala. Domain ini fokus pada masalah kendali­kendali yang diterapkan dalam organisasi, pemeriksaan internal dan eksternal. Berikut proses­proses TI pada domain monitoring and evaluate: ME1 – Monitor and evaluate IT performance, ME2 – Monitor and evaluate internal control, ME3 – Ensure regulatory compliance, ME4 – Provide IT Governance.
IT Governance menyediakan suatu struktur yang berhubungan dengan proses TI, sumber daya TI dan informasi untuk perencanaan strategi dan tujuan organisasi guna mendukung kebutuhan bisnis. Cara mengintegrasikan IT Governance dan mengoptimalisasikan organisasi yaitu melalui adanya Plan and Organise, Acquire and Implement, Deliver and Support dan Monitor and Evaluate.
Gambar 2.2 Prinsip dasar COBIT

Manajemen sebuah organisasi akan berfungsi secara efektif apabila para pengambil keputusan selalu ditunjang dengan keberadaan informasi yang berkualitas. COBIT mendeskripsikan karakteristik informasi yang berkualitas menjadi tujuh aspek utama, yaitu masing­ masing:
1.  Effectiveness, dimana informasi yang dihasilkan haruslah relevan dan dapat memenuhi kebutuhan dari setiap proses bisnis terkait dan tersedia secara tepat waktu, akurat, konsisten dan dapat dengan mudah diakses.
2.  Efficiency, dimana informasi dapat diperoleh dan disediakan melalui cara yang ekonomis, terutama terkait dengan konsumsi sumber daya yang dialokasikan.
3.   Confindentiality,  dimana  informasi rahasia dan yang bersifat sensitif harus dapat dilindungi atau dijamin keamanannya, terutama dari pihak­pihak yang tidak berhak mengetahuinya.
4.   Avaibility, dimana informasi haruslah tersedia bilamana dibutuhkan dengan kinerja waktu dan kapabilitas yang diharapkan.
5. Compliance, dimana informasi yang dimiliki harus dapat di pertanggungjawabkan kebenarannya dan mengacu pada hukum maupun regulasi yang berlaku, termasuk di dalamnya mengikuti standar nasional atau internasional yang ada.
6.  Reliability, dimana informasi yang dihasilkan haruslah berasal dari sumber yang dapat dipercaya sehingga tidak menyesatkan para pengambil keputusan yang menggunakan informasi tersebut.
Untuk memastikan hasil yang diperoleh dari proses TI sesuai kebutuhan bisnis, perlu diterapkan kendali­kendali yang tepat terhadap proses TI tersebut. Hasil yang diperoleh perlu diukur dan dibandingkan kesesuaiannya dengan kebutuhan bisnis organisasi secara berkala. Keseluruhan informasi tersebut dihasilkan oleh sebuah TI yang dimiliki organisasi, dimana didalamnya terdapat sejumlah komponen sumber daya penting, yaitu:

1. Aplikasi, yang merupakan sekumpulan program untuk mengolah dan menampilkan data maupun informasi yang dimiliki oleh organisasi.
2.  Informasi, yang merupakan hasil pengolahan dari data yang merupakan bahan mentah dari setiap informasi yang dihasilkan, dimana di dalamnya terkandung fakta dari aktivitas transaksi dan interaksi sehari­hari masing­masing proses bisnis yang ada di organisasi.
3.  Infrastruktur, yang terdiri dari sejumlah perangkat keras, infrastruktur teknologi informasi sebagai teknologi pendukung untuk menjalankan portfolio aplikasi yang ada. Selain itu yang termasuk dalam infrastruktur dapat berupa sarana fisik seperti ruangan dan gedung dimana keseluruhan perangkat sistem dan teknologi informasi ditempatkan.
4.   Manusia, yang merupakan pemakai dan pengelola dari sistem informasi yang dimiliki.

Pedoman Manajemen COBIT
Pedoman manajemen untuk COBIT, yang terdiri dari model maturity, KGI, dan KPI, yang kemudian menyediakan manajemen dengan alat untuk menilai dan mengukur lingkungan TI organisasi terhadap 34 proses TI yang diidentifikasikan COBIT. Saat ini manajemen TI terkait risiko tersebut dipahami sebagai bagian inti dari pengaturan organisasi. Pengaturan TI yang merupakan bagian dari pengaturan organisasi, menjadi lebih dirasakan peranannya dalam mencapai tujuan organisasi dengan menambah nilai melalui penyeimbangan risiko terhadap nilai kembali atas TI dan prosesnya.
Pengaturan TI merupakan pelengkap suksesnya pengaturan organisasi melalui peningkatan yang efisien dan efektif sehubungan dengan proses organisasi. Pengaturan TI menyediakan struktur yang berhubungan dengan proses TI, sumberdaya TI, dan informasi untuk strategi dan tujuan organisasi. Lebih lanjut, pengaturan TI mengintegrasikan dan melembagakan praktek yang berhubungan.

Model Maturity
COBIT melihat bahwa menerapkan mekanisme governance secara efektif tidaklah mudah, namun harus melalui berbagai tahap maturity (kematangan) tertentu. Model maturity untuk mengontrol proses IT, sehingga manajemen dapat mengetahui dimana posisi organisasi sekarang, dan diposisi dimana organisasi ingin berada. Paling tidak posisi maturity sebuah organisasi terkait dengan keberadaan dan kinerja proses IT Governance dapat dikategorikan menjadi enamtingkatan, yaitu;
a.  0 Non existent (tidak ada), merupakan posisi kematangan terendah, yang merupakan suatu kondisi dimana organisasi merasa tidak membutuhkan adanya mekanisme proses IT Governance yang baku, sehingga tidak ada sama sekali pengawasan terhadap IT Governance yang dilakukan oleh organisasi.
b. 1  Initial  (inisialisasi),  sudah  ada beberapa   inisiatif   mekanisme perencanaan, tata kelola, dan pengawasan sejumlah IT Governance yang dilakukan, namun sifatnya masih ad hoc, sporadis, tidak kosisten, belum formal, dan reaktif.
c. 2 Repeatable (dapat diulang), kondisi dimana organisasi telah memiliki kebiasaan yang terpola untuk merencanakan dan mengelola IT Governance dan dilakukan secara berulang­ulang secara reaktif, namun belum melibatkan prosedur dan dokumen formal.
d. 3 Defined (ditetapkan), pada tahapan ini organisasi telah memiliki mekanisme dan prosedur yang jelas mengenai tata cara dan manajemen IT Governance, dan telah terkomunikasikan dan tersosialisasikan dengan baik di seluruh jajaran manajemen.
e. 4 Managed (diatur), merupakan kondisi dimana manajemen organisasi telah menerapkan sejumlah indikator pengukuran kinerja kuantitatif untuk memonitor efektivitas pelaksanaan manajemen IT Governance.
f. 5 Optimised (dioptimalisasi), level tertinggi ini diberikan kepada organisasi yang telah berhasil menerapkan prisip­ prinsip governance secara utuh dan mengacu best practice, dimana secara utuh telah diterapkan prinsip­prinsip governance, seperti transparency, accountability, responsibility, dan fairness.

                                                Gambar 2.4 Model maturity


HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Data
Jumlah responden yang dipilih untuk pengisian kuesioner dalam penelitian ini sebanyak 37 orang responden yaitu meliputi karyawan P2ICT dan karyawan BAAK, dosen dan mahasiswa UNISBANK tingkat akhir. Responden yang dipilih adalah mereka yang mempunyai kemampuan untuk menilai penggunaan TI saat ini berkaitan dengan kegiatan layanan akademik UNISBANK.

Dalam penelitian ini tidak semua data yang didapatkan dari hasil pengisian kuesioner oleh responden dikatakan layak untuk diproses lebih lanjut. Data dari hasil penyebaran kuesioner dikatakan tidak layak, jika ada butir pertanyaan yang tidak dijawab atau pengisiannya tidak sesuai dengan petunjuk yang telah ditentukan. Sehingga data kuesioner tersebut tidak dapat diolah lebih lanjut. Jika semua butir pertanyaan yang ada dijawab sesuai dengan cara pengisian kuesioner, maka data kuesioner tersebut dikatakan layak sehingga dapat diolah lebih lanjut.
Pengolahan data dengan menggunakan program bantu SPSS versi 15 for windows. Adapun gambaran dari responden secara lengkap dari hasil pengolahan data bisa dilihat dari distribusi frekuensi dari tabel­ tabel dibawah ini. Pengumpulan data dilakukan dengan mengedarkan kuesioner kepada 37 responden tersebut, dimana selama pengisian kuesioner tersebut peneliti mendampingi obyek penelitian dengan tujuan untuk menjawab pertanyaan yang mungkin muncul dari para responden.
Teknik Pembuatan Skala
Kuesioner dalam penelitian ini dibuat menggunakan model pengukuran ordinal skala likert. Ukuran dalam model ini meliputi ukuran ordinal dan ukuran nominal. Ukuran ordinal merupakan angka yang diberikan dimana angka tersebut mengandung pengertian tingkatan. Ukuran nominal digunakan untuk mengurutkan obyek dari tingkatan terendah sampai tertinggi. Ukuran ini tidak memberikan nilai absolut terhadap obyek, tetapi hanya memberikan urutan tingkatan dari tingkat terendah sampai dengan tingkat tertinggi saja. Nilai tingkatan yang digunakan terdapat pada tabel 4.1.

Tabel 4.1 Nilai tingkatan

Sedangkan nilai absolut yang merupakan nilai model maturity dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4.2 Nilai absolut model maturity

Selanjutnya merelasikan antara nilai tingkatan dan nilai absolut yang dilakukan dengan perhitungan dalam bentuk indeks menggunakan formula matematika sebagai berikut : Persamaan matematik untuk menentukan nilai indeks adalah sebagai berikut:
Σ   jawaban pertanyaan terbanyak Indeks = ­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­
Σ  pertanyaan kuesioner
Sedangkan skala pembuatan indeks bagi pemetaan ketingkat model maturity terdapat pada tabel berikut ini.
Uji Validitas dan Reliabilitas
Tujuan uji validitas instrumen dalam penelitian ini adalah untuk memastikan secara statistik apakah butir pertanyaan yang digunakan dalam penelitian valid atau tidak dalam arti dapat digunakan dalam pengambilan data penelitian. Dalam pengujian ini digunakan uji terpakai, yaitu kuesioner yang sudah terkumpul dan dilakukan tabulasi..
Pengujian validitas menggunakan metode analisis faktor dengan cara mengkorelasikan masing­masing item dengan skor total sebagai jumlah setiap skor item, sehingga diperoleh koefisien korelasi. Untuk mengetahui valid tidaknya suatu variabel yang diuji dilakukan dengan membandingkan nilai component matriks atau factor loading­nya dengan 0,4., sedangkan KMO and Bartlett’s Test lebih besar dari 0,5.
Sesudah diadakan uji validitas langkah berikutnya adalah mengadakan uji reliabilitas. Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh hasil pengukuran tetap konsisten, apabila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama menggunakan alat pengukur yang sama. Konsistensi jawaban ditunjukkan oleh tingginya koefisien alpha (conbrach’s alpha). Semakin mendekati 1 koefisien alpha dari variabel yang diuji semakin tinggi konsistensi jawaban skor butir­butir pernyataan. Dengan kata lain skor variabel tersebut makin dapat dipercaya. Apabila koefisien alpha adalah diatas 0,6 maka hasil pengukuran relatif konsisten jika dilakukan pengukuran ulang, atau dapat dinyatakan bahwa reliabilitas yang dapat diterima adalah diatas 0,6.
Berdasarkan perhitungan SPSS diperoleh nilai r alpha seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini:

Hasil Penyebaran Kuesioner
Hasil perhitungan kuesioner untuk menentukan tingkat model maturity masing­ masing control process. dengan perhitungan menggunakan persamaan matematika dan skala pembulatan indeks yang ada pada table sebelumnya.
Berdasarkan hasil fakta yang diperoleh dari kuesioner yang terdapat pada tabel diatas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
 Mendidik dan Melatih User
Berdasarkan model maturity, proses ini berada pada tingkat 4 (Diatur) , artinya:
1. Program pendidikan dan pelatihan SDM sudah dilakukan secara terpadu dengan hasil terukur.
2.  Institusi menjadikan program pendidikan dan pelatihan sebagai salah satu hal pertimbangan dalam peningkatan jalur karir SDM.
3. Pengkajianulang setiap penyelengga­ raan pelatihan dan program pendidikan dilakukan secara terjadwal dan pembaharuan program pelatihan dan pendidikan selalu dilakukan Keadaan saat ini terkait dengan permasalahan mendidik dan melatih users, dan dibandingkan dengan keadaan sebagai berikut :
•   Penyelenggaraan pelatihan berkaitan dengan TI akademik menjadi tanggung jawab P2ICT sebagai pengelola dan penyedia TI yang digunakan di lingkungan kerja UNISBANK, dimana materi pelatihan yang diselenggarakan disesuaikan dengan kebutuhan yang mendukung kinerja personel tersebut.
•     Pelatihan yang diberikan hanya sebatas bagaimana pengopersian SI akademik diadakan dengan instruktur staf P2ICT dimana pelatihan tersebut ditujukan bagi para staf BAAK dan dosen tetap UNISBANK yang sifatnya wajib, namun tidak ada evaluasi mengenai penyelenggaraan efektifitas pelatihan tersebut.
•     Pelatihan belum dijadikan program kerja Institusi dimana penjadwalan pelaksanaan pelatihan hanya dilakukan jika ada proyek TI baru maupun permintaan dari unit kerja tertentu. Selain itu pelatihan belum dijadikan sebagai faktor yang penting dalam peningkatan karir SDM terkait maupun dalam rotasi SDM kebagian lain, sehingga pada saat terjadi rotasi pegawai, maka pelatihan dasar mengenai SI akademik maupun SI yang terkait dengan unit kerja baru diberikan kembali. Selain itu kebutuhan pelatihan belum terdapat standar dan belum didokumentasikan.

Mengelola Data
Berdasarkan model maturity, proses ini berada pada tingkat 3 (Ditetapkan) , artinya:
•    Institusi sudah memahami kebutuhan akan manajemen data yang dilakukan antar unit kerja yang ada di Institusi, dengan tanggung jawab manajemen data sudah ditetapkan dalam hal ini adalah P2ICT.
•    Sudah terdapat standar prosedur manajemen data, penggunaan tools dalam kegiatan manajemen data seperti backup, restoration, disposal dan pengawasan terhadap pelaksanan manajemen data.
Keadaan saat ini terkait dengan permasalahan mengelola data dan dibandingkan dengan keadaan sebagai berikut :
•          Pengelolaan data maupun pengelolaan arsip dan dokumen berkaitan dengan proses akademik menjadi tanggung jawab BAAK baik di tingkat universitas dan masing­masing Program Studi. Sedangkan pengelolaan data akademik secara online merupakan tanggung jawab P2ICT.
•          Format pengkodean data seperti kode mata kuliah, NIM (Nomor Induk Mahasiswa), NIP (Nomor Induk Pegawai) yang digunakan setiap Program Studi yang ada sudah sesuai dengan pengkodean yang sudah ditetapkan Institusi. Sedangkan prosedur input, pemrosesan, output data akademik mengikuti tuntunan manual masing­ masing aplikasi yang dibuat oleh P2ICT sebagai penyedia SI akademik.
Monitor dan Evaluasi
Berdasarkan model maturity, proses ini berada pada tingkat 3 (Ditetapkan) , artinya:
•          Sudah terdapat standarisasi proses monitoring yang dikomunikasikan ke seluruh unit kerja yang ada di Institusi, namun penilaian hanya dilakukan terhadap proyek TI tertentu yang tidak terintegrasi dengan seluruh proses TI yang ada.
•          Program pendididkan dan pelatihan untuk monitoring diberikan untuk staf yang bertanggung jawab atas monitoring kinerja TI.

•          Pengukuran kontribusi fungsi layanan yang diberikan kinerja TI terhadap kinerja Institusi sudah didefinisikan sesuai dengan kriteria operasional, dengan pengukuran kinerja TI maupun pengukuran kepuasan pengguna layanan SI akademik.
•          Sebaiknya P2ICT sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan TI telah menentukan batasan proses yang harus beroperasi dengan laporan monitoring sudah diformalkan dan distandarisasi.
•          TI yang ada sudah terintegrasi dan mempengaruhi keseluruhan unit kerja di Institusi.
Keadaan saat ini terkait dengan permasalahan monitoring dan evaluasi kinerja TI, dan dibandingkan dengan keadaan pada tabel IV.12 sebagai berikut :
•          Secara umum P2ICT belum mempunyai standar untuk melakukan pengukuran kinerja proses IT yang ada dilingkungan unit kerja UNISBANK.
•          Pengawasan kinerja TI hanya dilakukan berdasarkan kebutuhan tertentu atau maupun proyek TI spesifik.
•          Penanganan terhadap insiden cenderung dilakukan secara tidak terjadwal, tergantung apakah insiden tersebut menyebabkan suatu hal yang menghambat proses bisnis Institusi atau tidak. Jika akibat yang ditimbulkan menghambat operasi kinerja yang ada di Institusi dan jika dinilai dapat merugikan Institusi, maka pengawasan terhadap hal tersebut dilakukan secara reaktif.
Rekomendasi IT Governance Lembaga
Berdasarkan hasil kuesioner dan pemetaan model maturity terhadap pengelolaan TI di Lembaga saat ini, maka dibuatlah rekomendasi pengelolaan TI, dimana rekomendasi tersebut di buat untuk meningkatkan tingkat maturity pengelolaan TI sehubungan dengan kegiatan layanan akademik. Berdasarkan visi, misi, tantangan masa depan, dan tingginya harapan manajemen UNISBANK terhadap proses TI. Untuk dapat mendukung pencapaian tujuan UNISBANK setidaknya tingkat maturity pengelolaan TI yang dilakukan minimal harus berada pada tingkat level 4 – diatur (managed) dimana proses di monitor dan diukur menggunakan indikator tertentu.

KESIMPULAN
Kesimpulan yang diperoleh dari pelaksanaan penelitian ini antara lain :
2.    Dari hasil penelitian didapatkan bahwa Lembaga UNISBANK memiliki pengelolaan TI dalam mendukung layanan akademik dan dirasakan perlu dilakukan perbaikan terhadap beberapa control process yang dirasakan sangat penting menurut Lembaga yang terkait saat ini.
3.      Penentuan control process melatih dan mendidik users, mengelola data dari domain delivery and support, me­monitor dan evaluasi kinerja TI dari domain monitor and evaluate merupakan control process yang penting untuk diperbaiki.
4.    Dalam pembuatan rekomendasi IT Governance dilakukan berdasarkan posisi maturity masing­masing control process tersebut. Untuk menentukan maturity tersebut menggunakan model maturity yang merupakan pemetaan yang menggambarkan kondisi control process tersebut pada saat ini dan dilakukan perbandingan antara keadaan saat ini dan hasil pemetaan. Dari model maturity tersebut didapatkan bahwa control process melatih dan mendidik users berada pada posisi dapat diulang, mengelola data berada pada posisi dapat diulang, me­monitor dan evaluasi kinerja TI berada pada posisi inisialisasi.
Rekomendasi pengelolaan TI yang dibuat selaras dengan visi, misi dan tujuan Lembaga untuk masing­masing control process, maka pelatihan yang diberikan bagi karyawan baik yang non IT maupun karyawan IT dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan di unit kerjanya dan pengaturan kembali manajemen data yang berhubungan dengan proses layanan akademik dimana antara BAAK dan layanan akademik di Program Studi yang ada di UNISBANK maupun unit kerja lain terintegrasi dalam satu jaringan, dimana pengawasan data terpusat di data center yaitu server di P2ICT. Hal ini dapat meminimalkan permasalahan yang terdapat dalam proses pengolahan data akademik selama ini diantaranya sering terjadinya redudansi data akademik. Rekomendasi yang dibuat untuk monitor dan evaluasi kinerja TI menjamin bahwa kinerja dari TI dalam layanan akademik dapat terkontrol secara periodik tidak bergantung lagi apakah insiden yang terjadi mengganggu proses bisnis Lembaga. Selain itu rekomendasi yang dibuat antara mendidik dan melatih users, mengelola data dan monitor dan evaluasi kinerja TI dibuat saling berkaitan satu dengan lainnya, sehingga aktivitas yang ada di rekomendasi tersebut dapat terkontrol apakah terjadi permasalahan atau tidak dan segera mungkin dapat ditindaklanjuti. Seperti rekomendasi melatih dan mendidik users dan mengelola data dapat terkontrol pelaksanaannya dengan adanya rekomendasi pengontrolan proses kinerja TI di control process Monitor and Evaluate. Sehingga melalui ke 3 control process ini dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas kinerja TI.

DAFTAR PUSTAKA
Buku Panduan Akademik 2010/2011 Universitas Stikubank.
Grembergen,Win Van (2004), Strategies for Information Technology Governance, Idea Group Publishing.
Guidelines, Maturity Models , IT Governance Institute.
Handoko,     Hani       (1996),        Manajemen Personalia dan Sumberdaya Manusia, Yogyakarta, BPFE.
Kadir, Abdul (2003), Pengenalan Sistem Informasi, Andi Offset Yogyakarta.
ISACA (2004), COBIT  Student  Book, IT Governance Institute.
IT Governance based on CobiT® 4.1 ­ A Management Guide. Ebook,
IT Governance Institute (2005), COBIT 4.0 Control Objectives, Management
IT Governance  Institute  (2007),  IT Governance Implementation Guide 2nd.

SUMBER :
https://www.unisbank.ac.id/ojs/index.php/fti1/article/view/361/238

Nama Kelompok :

Annisa Desy Ramadhani (1B117107)
Dwi Sefti Handayani (1B117108)
Jamila Larasati (1B117072)
Maryati Latukau (1B117113)
Noviana Purnamasari (1B117104)

Jumat, 20 April 2018

Nilai-Nilai Budaya Kerja Pada PT ANTAM


ANTAM menetapkan nilai-nilai korporasi yang dikenal dengan nama PIONEER (Professionalism, Integrity, Global Mentality, Harmony, Excellence dan Reputation), yang aktualisasinya dimulai dari pimpinan yang bercirikan SENSE (Speed, Energize, Respect, and Courage) sehingga akan membawa Insan ANTAM ke level Human Capital Excellence yaitu Insan-insan ANTAM yang memenuhi kriteria BEST (Beyond Expectation, Environment Awareness dan Synergized Partnership).

PROFESSIONALISM
Professionalism adalah sikap disiplin dalam profesi yang mendorong seseorang untuk bersikap tepat dan sesuai keadaan dan memiliki kemampuan yang memadai. Sikap ini mencakup seluruh interaksi yang terjadi dalam profesinya. Professionalism mendorong terciptanya kredibilitas dan kepercayaan, dua hal yang krusial jika ingin membentuk hubungan jangka panjang dengan pihak ketiga. Baik itu supplier maupun konsumen.

INTEGRITAS 
Integritas adalah suatu konsep berkaitan dengan konsistensi dalam tindakan-tindakan, nilai-nilai, metode-metode, ukuran-ukuran, prinsip-prinsip, ekspektasi-ekspektasi dan berbagai hal yang dihasilkan. Orang berintegritas berarti memiliki pribadi yang jujur dan memiliki karakter kuat.

GLOBAL MINDSET
Global mindset adalah suatu konsep pemikiran serta karakteristik yang dimiliki seseorang agar mampu berpikir secara holistik, mengetahui perkembangan dan situasi dunia saat ini sehingga memiliki daya saing tinggi, bergaul dengan rekan di level nasional, regional, global, dan juga menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat luas.’

HARMONI 
Harmoni (dalam bahasa Yunani: harmonia, berarti terikat secara serasi/sesuai). Dalam bidang filsafat, harmoni adalah kerja sama antara berbagai faktor dengan sedemikian rupa hingga faktor-faktor tersebut dapat menghasilkan suatu kesatuan yang luhur. Sebagai contoh, seharusnya terdapat harmoni antara jiwa jasad seseorang manusia, kalau tidak, maka belum tentu orang itu dapat disebut sebagai satu pribadi. Pada bidang musik, sejak abad pertengahan pengertian harmoni tidak mengikuti pengetian yang pernah ada sebelumnya, harmoni tidak lagi menekankan pada urutan bunyi dan nada yang serasi, namun keserasian nada secara bersamaan. Singkatnya Harmoni adalah ketertiban alam dan prinsip/hukum alam semesta.

EXCELLENGE
Excellenge Kemampuan memberikan pelayanan prima adalah hal yang sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi saat ini. Hal ini mutlak harus dimiliki oleh seluruh karyawan yang bekerja di perusahaan. Mulai dari tingkat paling rendah sampai ke tingkat tertinggi. Semua harus mampu memberikan pelayanan prima. Karena pada dasarnya semua individu yang ada di kantor atau perusahaan hakikatnya adalah seorang pelayanan. 

REPUTASI
Reputasi atau citra didefinisikan sebagai a picture of mind, yaitu suatu gambaran yang ada di dalam benak seseorang. Citra dapat berubah menjadi buruk atau negatif, apabila kemudian ternyata tidak didukung oleh kemampuan atau keadaan yang sebenarnya.

SUMBER :

Jumat, 30 Maret 2018

DATA MINING UNTUK MEMPREDIKSI PRESTASI SISWA BERDASARKAN SOSIAL EKONOMI, MOTIVASI, KEDISIPLINAN DAN PRESTASI MASA LALU


Lembaga pendidikan pada umumnya dan Sekolah Menengah Kejuruan khususnya adalah institusi yang memiliki data explosion yang belum dimanfaatkan dengan baik untuk sesuatu yang berguna. Data yang biasa dimiliki sekolah dalam jumlah besar dan akan selalu bertambah setiap tahunnya antara lain daftar hadir siswa, data nilai calon siswa pada saat penerimaan siswa baru dan data status sosial ekonomi orang tua yang biasa diinput pada saat penerimaan siswa baru juga atau bisa juga dari data yang dimiliki BP/BK di sekolah. Data - data tersebut belum termanfaatkan dengan baik sebagai bahan pertimbangan, kajian dan penelitian untuk membuat suatu informasi yang berguna bagi sekolah. Oleh karena itu, dengan adanya data mining bisa menjadi salah satu solusi untuk menambang tumpukan data-data tersebut untuk membuat nilai atau informasi yang lebih berguna. Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini menggunakan metode data mining untuk membuat suatu prediksi tentang prestasi belajar siswa dengan memanfaatkan tumpukan data yang telah dimiliki sekolah tersebut.

METODE PENELITIAN 
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Tempat Penelitian ini adalah SMK Negeri 4 Surakarta yang beralamat di Jalan LU Adi Sucipto No. 40 Surakarta. Waktu penelitian dan pengambilan data pada bulan Juni 2013 sampai Desember 2013. Target/subjek penelitian adalah siswa tingkat X SMK Negeri 4 Surakarta Tahun Pelajaran 2013/2014 sejumlah 416 siswa. Prosedur penelitian menggunakan tahapan-tahapan KDD (Knowledge Data Discovery). Tahapan-tahapannya adalah: (1) Data Selection, yaitu tahapan ini dilakukan untuk memilih data yang sesuai dengan variabel yang dibutuhkan dalam penelitian; (2) Pre-processing/Cleaning, sebelum proses data mining
dapat dilaksanakan, perlu dilakukan proses cleaning pada data yang menjadi fokus KDD. Proses cleaning mencakup antara lain membuang duplikasi data, memeriksa data yang inkonsisten, dan memperbaiki kesalahan pada data, seperti kesalahan cetak (tipografi); (3) Transformation, coding adalah proses transformasi pada data yang telah dipilih, sehingga data tersebut sesuai untuk proses data mining; (4) Analisis data; (5) Pattern Evaluation, merupakan tahapan evaluasi untuk mengidentifikasi pola yang benar-benar menarik yang mewakili pengetahuan berdasarkan sumber data yang ada.  Kerangka pikir yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 1. Penelitian ini memperoleh data dari angket dan dokumentasi. Teknik dokumentasi digunakan untuk mengambil data status sosial ekonomi orang tua, kedisiplinan, dan prestasi masa lalu, sedangkan data motivasi siswa  diperoleh melalui angket. Teknik Analisis Data Penelitian ini mengunakan teknik Decision Tree, CHAID dan regresi ganda untuk melakukan prediksi prestasi belajar siswa SMK Negeri 4 Surakarta berdasarkan status ekonomi orang tua, motivasi, kedisiplinan dan prestasi masa lalu.

Decision Tree
Decision Tree akan memperlihatkan faktor-faktor kemungkinan (probabilitas) yang akan mempengaruhi alternatif-alternatif prestasi belajar siswa, disertai dengan prediksi hasil akhir yang akan didapat bila faktor-faktor dalam Decision Tree terpenuhi. Decision Tree akan mengubah data kedalam bentuk visual berupa diagram pohon dan aturan-aturan keputusan. Data dalam Decision Tree dinyatakan dalam bentuk tabel dengan atribut dan record. Atribut menyatakan suatu parameter yang dibuat sebagai kriteria dalam pembentukan tree. Salah satu atribut yang merupakan atribut yang menyatakan data solusi per-item data yang disebut dengan target atribut. Atribut memiliki nilai-nilai yang dinamakan dengan instance. Alur proses analisis dalam decision tree adalah mengubah bentuk data (table) menjadi model tree, mengubah model tree menjadi rule dan menyederhanakan rule (pruning). Data yang diambil dalam penelitian ini adalah populasi sejumlah 416 siswa akan digunakan untuk membuat model prediksi Decision Tree. Model yang telah dibuat kemudian akan dihitung tingkat akurasi prediksinya. Ada banyak metodologi Data Mining, salah satu yang populer adalah Pohon Keputusan (Decision Tree). Pohon keputusan merupakan salah satu metode klasifikasi yang sangat menarik yang melibatkan konstruksi  pohon keputusan yang  terdiri dari node keputusan yang di hubungkan dengan cabang-cabang dari simpul akar sampai ke node daun (akhir). Pada node keputusan attribut akan diuji, dan setiap hasil akan menghasilkan cabang. Setiap cabang akan diarahkan ke node lain atau ke node akhir untuk menghasilkan suatu keputusan (Larose, 2005, p.107). Menurut Maimon (2005, p.8), pohon keputusan adalah salah satu metode klasifikasi yang dinyatakan sebagai partisi rekursif. Pohon keputusan terdiri dari node yang membentuk pohon yang berakar, semua node memiliki satu masukan. Node yang keluar disebut node tes. Node yang lain disebut node keputusan atau sering disebut node daun. Setiap simpul internal membagi dua atau lebih sub-ruang sesuai dengan kategori attribut  dan akan dipartisi sesuai dengan nilai kategori kasus. Kasus-kasus tersebut membentuk pohon keputusan yang menghasilkan problem solving. Klasifikasi data mining adalah penempatan objek-objek ke salah satu dari beberapa kategori yang telah ditetapkan sebelumnya. Klasifiksi banyak digunakan untuk memprediksi kelas pada suatu label tertentu, yaitu dengan mengklasifikasi data (membangun model) berdasarkan training set dan nilai-nilai (label kelas) dalam mengklasifikasikan atribut tertentu dan menggunakannya dalam mengklasifikasikan data yang baru. Pohon keputusan biasanya digunakan untuk mendapatkan informasi untuk tujuan pengambilan sebuah keputusan. Pohon keputusan dimulai dengan sebuah root node (titik awal) yang digunakan oleh user untuk mengambil tindakan. Berdasarkan node root ini, user memecahkan leaf node sesuai dengan algoritma decision tree.
Hasil akhir dari penyusunan node root dan leaf node tersebut adalah sebuah pohon keputusan dengan setiap cabangnya menunjukkan kemungkinan skenario dari keputusan yang diambil serta hasilnya. Konsep pohon keputusan adalah mengubah data menjadi sebuah pohon keputusan (decision tree) dan aturan-aturan keputusan (rule).


CHAID
Tujuan dari metode ini adalah untuk memisahkan data secara berurutan dengan pembagian biner
menjadi beberapa subgrup. Pada tiap tahap, pembagian sebuah grup menjadi dua bagian didefinisikan
oleh salah satu variabel prediktor, sebuah himpunan bagian dari kategori-kategorinya mendefinisikan salah satu bagian, dan sisa kategori lainnya mendefinisikan bagian yang lain. Pada AID, prediktornya memiliki dua tipe utama, yaitu monotonik dan bebas. (Kass, 1980, p.241).


Regression analysis is the method to discover the relationship between one or more response variables (also called dependent variables, explained variables, predicted variables, or regressands, usually denoted by y) and the predictors (also called independent variables, explanatory variables, control variables, or regressors, usually denoted by x1; x2; ¢ ¢ ¢ ; xp). Menurut Deny Kurniawan (2008, p.1) analisis regresi setidak-tidaknya memiliki 3 kegunaan, yaitu untuk tujuan deskripsi dari fenomena data atau kasus yang sedang diteliti, untuk tujuan kontrol, serta untuk tujuan prediksi. Regresi mampu mendeskripsikan fenomena data melalui terbentuknya suatu model hubungan yang bersifatnya numerik. Regresi juga dapat digunakan untuk melakukan pengendalian (kontrol) terhadap suatu kasus atau hal-hal yang sedang diamati melalui penggunaan model regresi yang diperoleh. Selain itu, model regresi juga dapat dimanfaatkan untuk melakukan prediksi untuk variabel terikat. Namun yang perlu diingat, prediksi di dalam konsep regresi hanya boleh dilakukan di dalam rentang data dari variabel-variabel bebas yang digunakan untuk membentuk model regresi tersebut. Alur proses dalam regresi ganda adalah menghitung mean, menghitung standard deviasi, menghitung kuadrat varian, menghitung korelasi product Moment, menghitung nilai beta, menghitung nilai b1, b2, dan a, membuat persamaan garis regresi, menghitung sumbangan relatif dari kedua prediktor (R2), menghitung nilai signifikansi (F) dan menghitung signifikansi tiap-tiap prediktor (t).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian berdasarkan tahapantahapan proses dalam KDD (Knowledge Data Discovery) sebagai berikut: (1) Data Selection, tahapan ini dilakukan untuk memilih data yang sesuai dengan variabel yang dibutuhkan dalam penelitian. Caranya adalah dengan memilih atau menentukan atribut-atribut data mana yang akan digunakan dalam penelitian dari sekelompok data operasional yang ada. Salah satunya adalah menentukan atribut-atribut untuk variabel Sosial Ekonomi Orang Tua yang diambil dari data operasional yaitu Data Pribadi Siswa yang ada di BP/BK sekolah; (2) Preprocessing/Cleaning, proses cleaning tersebut dilakukan terhadap keseluruhan data yang diteliti yang berjumlah 416 siswa. Setelah dilakukan proses cleaning data sejumlah 416, dihasilkan data bersih sebanyak 346 record data yang digunakan untuk proses analisis berikutnya; (3) Transformation, tahap ini menghasilkan satu recordset data yang siap untuk analisis data; (4) Analisis data. Analisis data yang pertama adalah dengan menggunakan teknik decision tree algoritma J48. Software yang digunakan adalah WEKA 3.6.9. Hasil yang diperoleh adalah tingkat akurasi prediksi sebesar 95,7%, seperti tampak pada tabel 1. Analisis yang kedua menggunakan CHAID (Chi Squared Automatic Interaction Detection). Analisis ini menggunakan software SPSS 16.0. Hasil yang diperoleh adalah tingkat akurasi prediksi sebesar 82,1%, seperti tampak pada tabel 2.

Analisis yang ketiga menggunakan regresi ganda. Analisis ini menggunakan software SPSS 16.0. Hasil yang diperoleh adalah tingkat signifikansi seluruh variabel independen terhadap variabel dependen sebesar 90,6%. Perbandingan Hasil Akurasi Prediksi antara Metode J48, CHAID dan Regresi Ganda Perbandingan akurasi klasifikasi antara metode J48, CHAID dan regresi ganda untuk class nilai UTS sebagai target adalah sebagai berikut: Tingkat akurasi atau signifikansi variabel prediktor terhadap prestasi belajar siswa dengan menggunakan metode J48 sebesar 95,7%. Tingkat akurasi atau signifikansi variabel prediktor terhadap prestasi belajar siswa dengan menggunakan metode CHAID sebesar 82,1%. Tingkat akurasi atau signifikansi variabel prediktor terhadap prestasi belajar siswa dengan menggunakan regresi ganda sebesar 90,1%. Berdasarkan hasil tersebut terlihat bahwa penggunaan metode J48 lebih baik dari metode CHAID dan regresi ganda. Hal terlihat seperti pada tabel di bawah ini.


 Daftar Pustaka :

https://journal.uny.ac.id/index.php/jpv/article/view/2547

Minggu, 25 Maret 2018

Budaya Kerja Pada PT ANTAM Tbk


Sejarah PT ANTAM Tbk
        Kegiatan usaha Perseroan telah dimulai sejak tahun 1968 ketika Perseroan didirikan sebagai Badan Usaha Milik Negara melalui merjer dari beberapa Perusahaan tambang dan proyek tambang milik pemerintah, yaitu Badan Pimpinan Umum Perusahaan-perusahaan Tambang Umum Negara, Perusahaan Negara Tambang Bauksit Indonesia, Perusahaan Negara Tambang Emas Tjikotok, Perusahaan Negara Logam Mulia, PT Nickel Indonesia, Proyek Intan dan Proyek-proyek Bapetamb. Perseroan didirikan dengan nama "Perusahaan Negara (PN) Aneka Tambang" di Republik Indonesia pada tanggal 5 Juli 1968 berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 22 tahun 1968. Pendirian tersebut diumumkan dalam Tambahan No. 36, BNRI No. 56, tanggal 5 Juli 1968. Pada tanggal 14 September 1974, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 1974, status Perusahaan diubah dari Perusahaan Negara menjadi Perusahaan Negara Perseroan Terbatas ("Perusahaan Perseroan") dan sejak itu dikenal sebagai "Perusahaan Perseroan (Persero) Aneka Tambang".
             Pada tanggal 30 Desember 1974, ANTAM berubah nama menjadi Perseroan Terbatas dengan Akta Pendirian Perseroan No. 320 tanggal 30 Desember 1974 dibuat di hadapan Warda Sungkar Alurmei, S.H., pada waktu itu sebagai pengganti dari Abdul Latief, dahulu notaris di Jakarta jo. Akta Perubahan No. 55 tanggal 14 Maret 1975 dibuat di hadapan Abdul Latief, dahulu notaris di Jakarta mengenai perubahan status Perseroan dalam rangka melaksanakan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Undang-undang No. 9 tahun 1969 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. 1 tahun 1969 (Lembaran Negara tahun 1969 No. 16. Tambahan Lembaran Negara No. 2890) tentang bentuk-bentuk Usaha Negara menjadi Undang-undang (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1969 No. 40), Peraturan Pemerintah No. 12 tahun 1969 tentang Perusahaan Perseroan (Persero). Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1969 No. 21 dan Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 1974 tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Negara Aneka Tambang menjadi Perusahaan Perseroan (Persero), Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1974 nomor 33 jo.Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. Kep. 1768/MK/IV/12/1974, tentang Penetapan Modal Perusahaan Perseroan (Persero) PT Aneka Tambang menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT Aneka Tambang, yang telah memperoleh pengesahan dari Menkumham dalam Surat Keputusannya No. Y.A. 5/170/4 tanggal 21 Mei 1975 dan kedua Akta tersebut di atas telah didaftarkan dalam buku register yang berada di Kantor Pengadilan Negeri Jakarta berturut-turut di bawah No. 1736 dan No. 1737 tanggal 27 Mei 1975 serta telah diumumkan dalam Tambahan No. 312 BNRI No. 52 tanggal 1 Juli 1975. Untuk mendukung pendanaan proyek ekspansi feronikel, pada tahun 1997 Perseroan menawarkan 35% sahamnya ke publik dan mencatatkannya di Bursa Efek Indonesia. Pada tahun 1999, Perseroan mencatatkan sahamnya di Australia dengan status foreign exempt entity dan pada tahun 2002 status ini ditingkatkan menjadi ASX Listing yang memiliki ketentuan lebih ketat.

Visi dan Misi PT ANTAM Tbk

Visi ANTAM 2030:
"Menjadi korporasi global terkemuka melalui diversifikasi dan integrasi usaha berbasis Sumber Daya Alam"

Misi ANTAM 2030:

1. Menghasilkan produk-produk berkualitas dengan memaksimalkan nilai tambah melalui praktek-praktek industri terbaik dan operasional yang unggul.
2. Mengoptimalkan sumber daya dengan mengutamakan keberlanjutan, keselamatan kerja dan kelestarian lingkungan.
3. Memaksimalkan nilai perusahaan bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan.
4. Meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan karyawan serta kemandirian masyarakat di sekitar wilayah operasi

Arti Visi:
- Korporasi
Badan usaha holding yang memberi nilai tambah kepada stakeholder
- Global Terkemuka
1. Jangkauan pemasaran di seluruh dunia.
2. Operasional berstandar kelas dunia.
3. Perusahaan pengolah mineral terbesar di Indonesia.
- Terdiversifikasi dan Terintegrasi
1. Terdiversifikasi, bisnis yang pruden melalui pengembangan usaha secara horizontal.
2. Terintegrasi, bisnis yang saling terkait dari hulu ke hilir
- Berbasis Sumber Daya Alam
1. Pengelolaan sumber daya alam yang memberikan nilai tambah pada komoditas inti  dan bisnis pendukungnya.
2. Komoditas inti:  produk berbasis nikel, bauksit, dan emas.
3. Bisnis pendukung: energi, batubara, jasa eksplorasi, jasa permunian, tradingengineeringO&Mtransshipmenttraining centre, dan perkebunan.

Budaya Kerja PT ANTAM Tbk
           Penerapan praktik terbaik Corporate Governance secara konsisten dan berkesinambungan merupakan komitmen penuh dari ANTAM dalam pengelolaan ANTAM dengan menjaga keseimbangan antara kepentingan pemegang saham maupun kepentingan stakeholders lainnya. Dalam menerapkan Good Corporate Governance (GCG), ANTAM tidak hanya sekedar memenuhi kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan saja, tetapi bersungguh-sungguh menerapkannya dalam segala kegiatan operasional ANTAM yang dijalankan dengan senantiasa memperhatikan prinsip-prinsip GCG yaitu Transparency, Accountability, Responsibility, Independency dan Fairness.

Sebagai wujud penerapan GCG yang komprehensif, ANTAM berupaya untuk dapat mengadopsi standar terbaik yang berlaku secara internasional seperti Australian Securities Exchange (ASX) Corporate Governance Principles and Recommendations 3rd Edition yang diterbitkan oleh ASX Corporate Governance Council,ASEAN Corporate Governance Scorecard yang diterbitkan oleh ASEAN Capital Market Forum, standar yang berlaku di Indonesia seperti Pedoman GCG yang diterbitkan oleh Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) tahun 2006, standar penerapan GCG untuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dikeluarkan oleh Kantor Kementerian Negara BUMN, yaitu Peraturan Menteri Negara BUMN No. Per-01/MBU/2011 dan SK-16/S MBU/2012 serta Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No. 32/SEOJK.04/2015 tentang Pedoman Tata Kelola Perusahaan.
           Sesuai dengan visi, misi, tujuan dan strategi, serta ruang lingkup kegiatan operasional ANTAM yang terus berkembang dan kebijakan ekspansi usaha di bidang eksplorasi dan pemrosesan hasil tambang serta produk derivatifnya, ANTAM selalu berusaha untuk menerapkan GCG secara konsisten agar tujuan komitmen penerapan GCG yang dibangun dapat tercapai. Adapun tujuan penerapan GCG di ANTAM adalah sebagai berikut:
Meningkatkan kinerja ANTAM dengan proses pengambilan keputusan yang lebih baik dan berhati-hati (prudent) dengan selalu memperhatikan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dan mengendalikan risiko yang timbul, serta menghindari benturan kepentingan.
- Meningkatkan profesionalisme dan pengembangan sumber daya manusia ANTAM dengan melakukan penilaian kinerja yang lebih obyektif, transparan dan wajar, serta membangun struktur organisasi yang efisien dengan fungsi, sistem dan pertanggungjawaban yang jelas.
- Mengoptimalkan potensi dan nilai tambah sumber daya alam secara ekonomis dengan pengelolaan risiko yang lebih efektif.
- Memastikan bahwa pengelolaan keuangan dilakukan secara prudent dan terkendali, dan menyusun laporan keuangan ANTAM secara akurat dan dapat dipertanggungjawabkan dengan suatu sistem pengendalian internal yang handal dan manajemen risiko yang sehat.
- Meningkatkan kepercayaan investor, kreditur dan pemegang saham dengan selalu melakukan pengkinian data/informasi yang materiil dan relevan secara transparan, akurat, berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan.
- Memperhatikan kepentingan stakeholders ANTAM dengan memperjelas hak dan kewajiban masing-masing pihak, serta melaksanakan hubungan usaha yang sehat dan bertanggung jawab.
- Melaksanakan pemberdayaan masyarakat dan ikut berperan aktif melestarikan lingkungan, khususnya di sekitar kegiatan operasi ANTAM.
             Struktur tata kelola perusahaan secara garis besar tergambarkan pada organ utama ANTAM yaitu Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Dewan Komisaris dan Direksi. Sebagaimana dimaksud dalam anggaran dasar ANTAM dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, masing-masing organ mempunyai peran penting dalam penerapan GCG dan menjalankan fungsi, tugas, dan tanggung jawabnya masing-masing untuk kepentingan ANTAM. RUPS merupakan wadah para pemegang saham yang memiliki wewenang yang tidak dilimpahkan kepada Dewan Komisaris dan Direksi. Direksi bertanggung jawab penuh atas pengelolaan ANTAM sesuai amanah yang diberikan, sedangkan Dewan Komisaris melakukan pengawasan yang memadai terhadap pengelolaan yang dilakukan oleh Direksi serta melakukan penasihatan agar kinerja ANTAM lebih baik. Dewan Komisaris dan Direksi diangkat dan diberhentikan oleh RUPS. Fungsi Direktur Independen pada sistem satu Dewan sebagaimana berlaku di ASX terwakili oleh Dewan Komisaris dalam sistem dua Dewan. Dewan Komisaris dan Direksi ANTAM memiliki kesamaan persepsi terhadap visi, misi, dan nilai-nilai ANTAM yang menunjukkan keseimbangan hubungan kedua organ tersebut untuk memelihara keberlanjutan usaha ANTAM dalam jangka panjang.
           Dewan Komisaris, Komite-komite di tingkat Dewan Komisaris, Direksi, dan manajemen senior terus meningkatkan kapabilitas di dalam proses pengawasan dan pengelolaan perusahaan, sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Semua pihak juga berupaya untuk memperkuat hubungan kerja satu sama lain. Singkatnya, ANTAM menyadari pentingnya hubungan kerja yang harmonis serta kerjasama diantara organ-organ tata kelola, manajemen dan staf untuk mempertahankan dan meningkatkan praktik GCG di ANTAM secara berkelanjutan. Untuk mendukung fungsi pengawasan, Dewan Komisaris telah membentuk tiga Komite Penunjang Dewan Komisaris yakni Komite Audit, Komite Good Corporate Governance, Nominasi dan Remunerasi (GCG-NR) dan Komite Manajemen Risiko.
           Setiap Komite diketuai oleh anggota Dewan Komisaris, dan tugas serta tanggung jawab masing-masing Komite tercantum dalam masing-masing piagam yang dimiliki. Evaluasi kinerja Dewan Komisaris dilakukan melalui Komite GCG-NR dengan metode self assessment dengan indikator sebagaiman tercantum dalam Charter Dewan Komisaris.Hasil kinerja dilaporkan di dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
            Evaluasi kinerja Direksi dilakukan oleh Dewan Komisaris berdasarkan Key Performance Indicators(KPIs) dan hasilnya dilaporkan di dalam RUPS. Evaluasi kinerja Komite Penunjang Dewan Komisaris dilakukan menggunakan sistem self-assessment. Evaluasi dilakukan menggunakan beberapa kriteria seperti kehadiran di rapat Komite. Sebagai tambahan, Komite juga dievaluasi menggunakan aspek pengetahuan dan pemahaman mengenai tugas dan tanggung jawab Komite. Di level manajemen, ANTAM mengadopsi Sistem Manajemen berbasis Kinerja untuk mengevaluasi kinerja manajemen senior yang didasarkan pada beberapa faktor kunci seperti manajemen biaya, inovasi dan proses operasional. Kinerja masing-masing senior manajemen terhubung dengan kinerja Direksi yang keseluruhannya berada dalam sistem Key Performance Indikator. Setiap tahun Direksi bertemu dengan senior manajemen dari unit bisnis di dalam forum Rapat Pimpinan untuk mengevaluasi dan memberi masukan terhadap kinerja masing-masing unit bisnis.


Sumber :
http://www.antam.com/index.php?option=com_content&task=view&id=529&Itemid=244
http://www.antam.com/index.php?option=com_content&task=view&id=34&Itemid=40
http://www.antam.com/index.php?option=com_content&task=view&id=14&Itemid=23&lang=id